Sari Pediatri (Dec 2016)

Inkontinensia Urin pada Anak

  • Taralan Tambunan

DOI
https://doi.org/10.14238/sp2.3.2000.163-9
Journal volume & issue
Vol. 2, no. 3
pp. 163 – 9

Abstract

Read online

Secara umum gangguan berkemih yang disebut mengompol dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu enuresis dan inkontinensia urin. Enuresis dianggap sebagai akibat maturasi proses berkemih yang terlambat, umumnya tidak ditemukan kelainan organik yang nyata sebagai penyebab. Inkontinensia urin didefinisikan sebagai pengeluaran urin yang terjadi tanpa kontrol (involunter) meskipun si pasien berusaha sekuat mungkin menahannya, kencing bisa menetes dan tidak lampias, terjadi seketika. Dalam kenyataan sehari-hari, tidak mudah membedakan enuresis dengan inkontinensia urin. Inkontinensia urin lebih sering bersifat kronik dan progresif. Klasifikasi dapat disusun berdasarkan etiologi, kelainan pola berkemih maupun berdasarkan tingkat lesi neurologik. Pendekatan diagnostik yang lebih mutakhir didasarkan pada hasil pemeriksaan miksiosistoureterografi dan urodinamik yang menggolongkan inkontinensia dalam dua bagian yaitu inkontinensia fungsional dan organik. Dalam periode 11 tahun di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta (1989-2000) tercatat 18 kasus inkontinensia urin, 9 di antaranya tergolong dalam buli-buli neurogenik akibat spina-bifida. Masalah utama yang dihadapi ialah ISK berulang dan gagal ginjal kronik. Penanganan yang baik dan tepat harus dimulai dari upaya diagnostik yang akurat. Prioritas utama ialah pemeliharaan fungsi ginjal, pemberantasan infeksi berulang dengan memperhatikan kondisi neurologis yang diderita. Kerjasama antar disiplin seperti urologi, pediatri dan rehabilitasi medik sangat diperlukan, namun di atas segalanya, perhatian, kesabaran dan dedikasi untuk menolong pasien sangat penting agar kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.

Keywords