Majalah Kardiologi Indonesia (Jun 2013)
Paradox Obesitas pada Pasien Gagal Jantung
Abstract
Obesitas sudah menjadi sebuah epidemi di negara maju. Ukuran objektif obesitas biasanya dinilai dari nilai IMT, dimana ukuran international untuk obesitas adalah IMT =30 kg/m2, sedangkan untuk ukuran orang Asia obesitas didefinisikan dengan nilai IMT=25 kg/m2. Obesitas memiliki hubungan yang erat dengan tingginya kejadian penyakit kardiovaskular. Obesitas dapat meningkatkan kadar trigliserid yang buruk untuk kesehatan jantung dan menurunkan kadar high density lipoprotein (HDL) yang bersifat kardioprotektif. Selain itu, seiring meningkatnya obesitas, meningkat juga angka hipertensi. Obesitas juga dapat menyebabkan disfungsi diastolik dan berhubungan dengan memburuknya fungsi sistolik. Walaupun obesitas merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner, hal yang berbeda ditemukan pada kasus gagal jantung. Berdasarkan beberapa studi, pasien gagal jantung dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan mereka dengan IMT yang lebih rendah. Selain itu, analisis dari beberapa studi oleh Oreopoulos et al menyimpulkan bahwa IMT yang lebih tinggi berhubungan dengan prognosis yang lebih baik pada pasien gagal jantung. Hal inilah yang disebut paradox obesitas (Obesity paradox).