Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia (Jul 2010)

Pengaruh Konsentrasi dan Frekuensi Aplikasi Deltametrin terhadap Resurjensi Nilaparvata lugens

  • Yuni Ratna,
  • Y. Andi Trisyono,
  • Witjaksono Witjaksono,
  • Didik Indradewa

DOI
https://doi.org/10.22146/jpti.11737
Journal volume & issue
Vol. 16, no. 1
pp. 6 – 14

Abstract

Read online

Nilaparvata lugens is the type of insect pest whose resurgence is induced by insecticides. Deltamethrin is an insecticide commonly used by farmers to control pests other than N. lugens on rice. This research was conducted to determine the effect of sublethal concentrations and application frequency of deltamethrin on subsequent growth and development of third instars of N. lugens. The selected concentrations were 50 ppm (LC25) and 225 ppm (LC50), and the frequency of applications ranged 1–3 times. Each concentration was applied to the third instars of the parent generation (one time), the parent and their first offspring (two times) and the parent, their first and second offspring (three times). N. lugens used in this experiment was the susceptible population derived from the laboratory population. Application of deltamethrin on two and three consecutive generations increased nymphal mortality, the population of offspring produced by the surviving adults, and the ratio of treated and control females in producing the offspring. Increasing the frequency of application increased the ratio, and the females received three applications produced nymphs 2.65 times more than the control females. The two sublethal concentrations did not have significant impact on the above parameters. Furthermore, the interaction between concentration and frequency of application was absent. These findings suggest that several applications of deltamethrin at sublethal concentrations would contribute to the resurgence of N. lugens. Nilaparvata lugens adalah jenis serangga hama yang resurjensinya sering disebabkan oleh pestisida. Deltametrin umumnya digunakan oleh petani untuk mengendalikan hama padi selain N. lugens. Hal ini menyebabkan N. Lugens meskipun bukan target terpapar oleh deltametrin. Penelitian ini dilakukan untukmelihat pengaruh konsentrasi subletal dan frekuensi aplikasi deltametrin terhadap pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut instar tiga N. lugens. Konsentrasi deltametrin yang diuji adalah 50 ppm (LC25) dan 225 ppm (LC50), dengan frekuensi aplikasisatu, dua, dan tiga kali. Masing-masing konsentrasi diaplikasikan pada instartiga generasi induk (satu kali), induk dan keturunan pertama (dua kali) dan induk, keturunan pertama dan kedua (tiga kali).N. lugens yang digunakan adalah populasi peka yang berasal dari populasi laboratorium.Aplikasi deltametrin pada dua dan tiga generasi berturut-turut meningkatkan mortalitas nimfa, populasi nimfa, jumlah keturunan dan rasio jumlah keturunan N. lugens. Peningkatan frekuensi aplikasi meningkatkan rasio jumlah keturunan dan betina yang menerima aplikasi tiga kali menghasilkan nimfa 2,65 kali lebih banyak dibandingkan betina pada perlakuan kontrol.Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara konsentrasi 50 dan 225 ppm terhadap parameter yang diamati. Tidak terdapat interaksi antara konsentrasi subletal dan frekuensi aplikasi deltametrin. Penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi konsentrasi subletal deltametrin berkontribusi dalam resurjensi N. lugens.

Keywords